Pada hakekatnya setiap anak pasti ingin
sekali bahkan bercita-cita membahagiakan orang tua. Banyak hal yang mereka
korbankan kepada kita selaku anak, maka sepatutnya lah kita membahagiakan
mereka. Bahagia bukanlah sekedar ukuran materi yang diberikan melainkan kasih
sayang dan perhatianlah yang mereka butuhkan.
Berikut beberapa hal yang bisa kita
lakukan agar mereka bahagia:
- Membantunya pada setiap aktifitas yang kiranya kita bisa Membantunya bila perlu kita menggantikan pekerjaan tersebut
- Bagi yang sudah menikah usahakan seminggu sekali kita berkunjung untuk mengobati kerinduan, bahkan menjadi obat saat mereka sakit
- Cobalah berkomunikasi baik secara langsung maupun melalui telepon
- Doa kan mereka agar senantiasa sehat walafiat
- Barilah sesekali kejutan berupa hadiah, tak banyak namun memberi kesan kepada mereka bahwa itu sebuah bentuk perhatian, dll
Ingatlah betapa besar kasih sayang kedua orang tuamu kepadamu. Ingatlah
betapa besar perhatian mereka akan tempat tinggalmu, makan dan minummu,
pendidikanmu, serta penjagaan mereka pada waktu malam dan siang. Ingatlah
betapa besar kekhawatiran mereka ketika engkau sakit hingga pekerjaan yang lain
pun mereka tinggalkan demi merawatmu. Uang yang mereka cari dengan susah payah
rela mereka keluarkan tanpa pikir panjang demi kesembuhanmu. Ingatlah kerja
keras siang malam yang mereka lakukan demi menafkahimu. Niscaya engkau akan
mengetahui kadar penderitaan kedua orang tuamu pada waktu mereka membimbing
dirimu hingga beranjak dewasa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan di dalam Al qur’an, agar
manusia berbakti kepada kedua orang tuanya.
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan
hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika
salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam
pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada
keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan
penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya,
sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.'” (Al Israa’: 23-24)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat
36, “Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu,
dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada
anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat,
tetangga yang jauh teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.” (An
Nisaa’: 36)
Jika kita perhatikan, berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang
tercantum pada ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa berbakti kepada
kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (mengesakan)
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah. Karena itu bisa kita pahami bahwa
tidak boleh terjadi bagi seorang yang mengaku bertauhid kepada Allah tetapi ia
durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullaha
salamah wal ‘afiyah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Menciptakan dan Allah yang Memberikan
rizki, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang berhak diibadahi. Sedangkan
orang tua adalah sebab adanya anak, maka keduanya berhak untuk diperlakukan
dengan baik. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi seorang anak untuk
beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian diiringi dengan berbakti
kepada kedua orang tuanya.
Saudariku, marilah kita belajar dari mulianya akhlaq para salaf dalam
berbakti kepada kedua orang tuanya. Sesungguhnya dari kisah mereka kita dapat
mengambil pelajaran yang baik. Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia
menceritakan, Seorang lelaki ada yang pernah menemui Muhammad bin Sirin di
rumah ibunya. Ia bertanya, “Ada apa dengan Muhammad? Apakah ia sakit?” (karena
Muhammad bin Sirin suaranya lirih hampir tak terdengar bila berada di hadapan
ibunya. red). Orang-orang di situ menjawab,“Tidak. Cuma demikianlah
kondisinya bila berada di rumah ibunya.”
Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafshah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia
menceritakan, “Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara
dengannya dengan suara keras demi menghormati ibunya tersebut.”
Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Suatu hari
ibunya memanggil beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang
lebih keras dari suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak.”
Dari Muhammad bin sirin diriwayatkan bahwa ia menceritakan, pada masa
pemerintahan Ustman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu dirham. Maka
Usamah bin Zaid bin Haritsah mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan
mencabut umbutnya (yakni bagian di ujung pokok kurma berwarna putih, berlemak
berbentuk seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu), lalu diberikan
kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya, “Apa yang
menyebabkan engkau melakukan hal itu, padahal engkau tahu bahwa pokok kurma
kini harganya mencapai seribu dirham?” Beliau menjawab, “Ibuku
menhendakinya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku
pasti memberikannya.”
Saudariku, andaikan (kelak) kita menjadi orang tua, tidakkah kita akan
kecewa dan bersedih hati bila anak kita berkata kasar kepada kita, orang tuanya
yang telah membesarkannya. Lalu, apakah kita akan tega melakukannya terhadap
orang tua kita saat ini? Mereka yang selalu berusaha meredakan tangis kita
ketika kecil. Ingatlah duhai saudariku, doa orang tua terutama ibu adalah doa
yang mustajab. Maka janganlah sekali-kali engkau menyakiti hati
mereka meskipun engkau dalam pihak yang benar. Cermatilah kisah berikut ini saudariku…
Dari Abdurrahman bin Ahmad, meriwayatkan dari ayahnya bahwa ada seorang
wanita yang datang menemui Baqi’ dan mengatakan, “Sesungguhnya anakku
ditawan, dan saya tidak memilki jalan keluar. Bisakah anda menunjukkan orang
yang dapat menebusnya; saya sungguh sedih sekali.” Beliau menjawab, “Bisa. Pergilah dahulu,
biar aku cermati persoalannya.” Kemudian beliau menundukkan kepalanya
dan berkomat-kamit. Tak berapa lama berselang, wanita itu telah datang dengan
anak lelakinya tersebut. Si anak bercerita, “Tadi aku masih berada
dalam tawanan raja. Ketika saya sedang bekerja paksa, tiba-tiba rantai di
tanganku terputus.” Ia menyebutkan hari dan jam di mana kejadian itu
terjadi. Ternyata tepat pada waktu Syaih Baqi’ sedang mendoakannya. Anak itu
melanjutkan kisahnya, “Maka petugas di penjara segera berteriak. Lalu
melihatku dan kebingungan. Kemudian mereka memanggil tukang besi dan kembali
merantaiku. Selesai ia merantaiku, akupun berjalan, tiba-tiba rantaiku sudah
putus lagi. Mereka pun terbungkam. Mereka lalu memanggil para pendeta mereka.
Para pendeta itu bertanya, ‘Apakah engkau memilki ibu?’ Aku menjawab, ‘Iya.’
Mereka pun berujar, ‘mungkin doa ibunya, sehingga terkabul’.”
Kejadian itu diceritakan kembali oleh al Hafizh Hamzah as Sahmi, dari
Abul Fath Nashr bin Ahmad bin Abdul Malik. Ia menceritakan, aku pernah
mendengar Abdurrahman bin Ahmad menceritakannya pada ayahku, lalu ia menuturkan
kisahnya. Namun dalam kisahnya disebutkan, bahwa mereka berkata, “Allah
telah membebaskan kamu, maka tidak mungkin lagi bagi kami menawanmu.” Mereka
lalu memberiku bekal dan mengantarkan aku pulang.
No comments:
Post a Comment